Metode Black Soldier Fly, Solusi Atasi Sampah Organik
SIDOARJO, SURYAKABAR.com – Solusi mengatasi sampah sering diperbincangkan. Bahkan, berbagai metode juga sudah dilakukan. Namun, ada cara unik untuk mengatasi masalah sampah khususnya sampah organik, yakni dengan cara Metode Biokonversi Black Soldier Fly (BSF).
Metode BSF, merupakan metode pengolahan sampah organik menggunakan larva (maggot) yang diletakkan pada sampah organik dengan tujuan untuk mereduksi sampah tersebut. Metode BSF ini dapat dijumpai di PT. Waste4Change, Area Komposting di Pasar Puspa Agro, Desa Jemundo, Kecamatan Taman, Sidoarjo.
Teguh Rahayu (27), Nursery Senior Officer di PT Waste4Change Sidoarjo mengatakan, keuntungan metode BSF, selain mengurangi masalah sampah organik, juga dapat memanfaatkan larva sebagai pakan ternak seperti ikan, burung, reptil dan unggas. “Selain sampah berkurang, keuntungan yang lain yaitu larva yang dipanen dapat dijadikan alternatif pakan ternak,” ujar Teguh Rahayu, Minggu (2/9/2018).
Prosesnya, BSF atau sering disebut lalat tentara hitam dikembangbiakkan di tempat yang disebut nursery. Setelah lalat bertelur, telur-telur tersebut dipisahkan dan ditempatkan di tempat yang berbeda untuk proses penetasan.
Setelah menetas dan berusia 5 hari atau yang biasa disebut dengan 5dol, diletakkan pada sampah organik. Setelah 10 hari, larva tersebut sudah dapat dipanen.
“Idealnya, 10 ribu larva 5dol (sekitar 15 gram) dapat mengolah 12 kilogram sampah organik dan mereduksi sampah organik tersebut hingga 80%. Waktu panen, dapat menghasilkan sekitar 1 sampai 2 kilogram larva yang siap dijadikan pakan ternak,” terangnya.
Agar lebih hemat, larva yang siap dijadikan pakan tersebut, bisa dicampur dengan bekatul untuk membuat pellet. Perbandingannya antara 600 gram larva dan 400 gram bekatul atau dedak untuk takaran 1 kilogram. “Kalau dicampur dedak, perbandingannya 60 persen larva dan 40 persen dedak,” terangnya.
Menurutnya, kandungan protein dalam larva ini cukup tinggi, sekitar 35 persen, sehingga baik untuk pakan ternak. “Kandungannya ada sekitar 35 persen protein jadi baik untuk ternak. Selain itu, saat ini kan pakan ternak naik. Jadi dapat mengurangi pengeluaran biaya untuk pakan,” jelasnya.
Dia menambahkan, per kilogram maggot hidup, dipatok dengan harga Rp 5 ribu sampai 7 ribu. Harganya semakin tinggi saat dijadikan tepung atau pellet, perkilonya bisa mencapai Rp 20 ribu. “Akan bertambah mahal kalau sudah jadi pellet atau tepung,” paparnya.
Dia mengaku pemasaran pakan ternak dari metode BSF ini sudah ke berbagai kota besar di indonesia seperti Surabaya, Sidoarjo, Jakarta, Bandung termasuk di Pulau Sulawesi, bahkan sampai luar negeri. “Kalau yang dari luar negeri biasanya datang untuk training,” pungkasnya. (wob)