PDSKJI dan KPSI Ajak Belajar Interaksi Penyintas Skizofrenia dan Bipolar di Surabaya

SURABAYA, SURYAKABAR.com – Seksi Bipolar dan Gangguan Mood Lainnya Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) bekerja sama dengan Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Simpul Surabaya, dan Harmony in Diversity (HID) mengajak penyintas skizofrenia (gangguan jiwa) dan gangguan bipolar untuk belajar berinteraksi.

Kegiatan yang dikemas dalam kopi darat atau Kopdar dan Halal Bihalal ini menjadi ajang temu, silaturahmi, dan sharing pengalaman, sekaligus dalam rangka World Bipolar Day 2026 yang diperingati tiap 30 Maret.

Pembina KPSI Simpul Surabaya dan Harmony in Diversity (HID) Prof Dr dr Margarita Maria Maramis SpKJ SubspBP(K) FISCM mengatakan, kegiatan ini menghadirkan dua pembicara, yakni dr Era Catur Prasetya SpKJ(K) yang membahas “Manfaat Silaturahmi untuk Kesehatan Mental”, serta Anto Agus Sugianto SPd MHP Phd (Cand), seorang penyintas bipolar yang bersedia berbagi pengalamannya tentang “Peran Komunitas dalam Mendukung Pemulihan”.

Menurutnya, kegiatan ini dibuat dengan konsep forum group discussion (FGD), namun para peserta dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil agar lebih bisa fokus dan leluasa dalam berbagi dan menceritakan pengalamannya.

Baca Juga:  FK Unair Sasar Ratusan Warga Surabaya Skrining Tuberkulosis dengan X-Ray Portable AI

“Kita ingin memberikan suatu kesadaran dari para penyintas ini, juga bukan hanya penyintas ya, tapi caregiver (pengasuh)nya juga kita libatkan karena penyintas itu hidupnya bersama caregiver,” ujarnya, Senin (20/4/2026).

“Jadi, dia bisa merasakan, dia juga sama dengan kita, bukan karena saya psikiater, tapi sama manusia, jadi gunanya itu dengan FGD kita juga ingin mereka itu lebih berbicara, lebih mampu menyatakan dirinya, sering mereka kan menyembunyikan atau menstigma diri,” sambungnya.

Psikiater Konsultan RSUD Dr Soetomo Surabaya dan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) dr Azimatul Karimah SpKJ SubspKL(K) FISCM mengatakan, KPSI kali pertama didirikan di Jakarta, dan untuk KPSI di Surabaya mulai berkegiatan pada 31 Juli 2011 atau sudah 15 tahun.

Baca Juga:  RS Kemenkes Surabaya dan POTADS Jatim Siapkan Kebutuhan Terapi Jangka Panjang bagi Penyintas Down Syndrome

Menurutnya, komunitas ini mengumpulkan orang dengan skizofrenia dan keluarganya untuk mendapatkan edukasi yang benar tentang skizofrenia. Mereka berkumpul dalam satu komunitas agar mereka bisa sharing pengalaman serta bersosialisasi. Sebab, pada kasus skizofrenia jika penyintas sudah lama sakit, keterampilan komunikasi dan keterampilan sosialnya merosot dengan tajam.

“Fokus utama kegiatan yang pertama mengedukasi. Sekali kopdar itu pasti ada keluarga baru yang bergabung kita luruskan persepsinya tentang mitos, roh halus apa segala macam. Yang kedua, kita mengajak mereka untuk belajar berinteraksi, terutama ketika mereka itu datang ke tempat umum, biasanya orang gini dikurung di rumah,” ungkapnya.

dr Azimatul menjelaskan, skizofrenia merupakan gangguan jiwa berat. Sehingga, orang dengan gangguan ini tidak bisa membedakan mana yang realita dan mana yang alam pikirannya sendiri.

“Kalau skizofrenia ini yang paling terganggu adalah cara berpikirnya. Dia punya pikiran aneh merasa diracuni keluarganya, merasa diguna-guna, merasa dibicarakan, dirasani gitu, ya merasa nanti dia dicelakai gitu, atau mungkin dia punya keyakinan yang aneh,” jelasnya.

Baca Juga:  Wakil Rektor Universitas Brawijaya Tinjau Kesiapan Lokasi UTBK 2026

“Sedangkan, bipolar problem utamanya di emosinya, kalau diajak ngomong mungkin kita bisa memahami logika berpikirnya kayaknya kok masuk akal gitu, tapi kita merasakan orang ini kok dia lagi naik gitu ngomongnya jadi lebih lebih riang gembira dibandingkan orang biasanya,” tambahnya.

Menurutnya, usia orang dengan skizofrenia bervariasi, ada yang mulai sakitnya berusia 20-an, sedangkan penyintas gangguan bipolar rata-rata berusia belasan tahun setingkat SMA atau kuliah.

“Kalau kita membiarkan orang skizofrenia tidak diobati, dia akan menjadi beban keluarganya, penyembuhan awal itu obat gangguan jiwa berat, kalau gangguan jiwa ringan cemas boleh hipnoterapi atau relaksasi,” terangnya.

Melalui kegiatan ini diharapkan agar penyintas skizofrenia dan bipolar beserta keluarganya tidak selalu bergantung pada tenaga kesehatan. Peran dari orang tua maupun keluarga terdekat sangat penting untuk membuat kondisi kesehatan jiwa menjadi lebih baik. (aci)