Warga Desa Ngampelsari Kecamatan Candi Sidoarjo Mengubah Sampah Menjadi Rupiah

SIDOARJO, SURYAKABAR.com – Apa yang dilakukan warga Desa Ngampelsari, Kecamatan Candi ini layak dicontoh. Untuk mengurangi volume sampah, sejak sepuluh tahun terakhir, warga terbiasa memilah sampah yang bisa didaur ulang. Setelah terkumpul, warga menyetorkannya ke Bank Sampah Induk ‘Sumringah’, di balai desa setempat. Maka jadilah sampah menjadi rupiah.

Atik, warga RW 05 menuturkan, dirinya bersama suami dan tiga anaknya telah lama dan menjadi kebiasaan memilah sampah daur ulang. “Sampah yang kami pilah mulai dari kertas hingga plastik,” tutur Atik, Sabtu (30/11/2024).

Menurutnya, mengumpulkan sampah daur ulang tidak sekadar menumpuk dan mengemasnya. “Kertas beragam jenis dan harganya tidak sama. Begitu juga plastik. Botol bekas minuman, beda warna, harganya pun berbeda,” terangnya.

Baca Juga:  Murid SMK YPM 5 Sukodono Sidoarjo Belajar Mengelola Sampah, Diharapkan Jadi Agen Perubahan Lingkungan

Setiap dua minggu sekali, Atik menyiapkan sampah-sampah daur ulang tersebut di depan rumah. Pada hari Sabtu, ada petugas yang mengangkutnya ke Bank Sampah Induk Sumringah, di balai desa.

“Mengumpulkan sampah daur ulang menjadi kebiasaan yang mengasyikkan sekaligus bisa mengurangi volume sampah yang dibuang di TPA. Ini wujud kepedulian kita terhadap lingkungan,” imbuhnya.

Yogi Budhian, warga RW 06 mengatakan, menabung sampah daur ulang memang membawa berkah ganda. Bisa berperan menjaga lingkungan sekaligus mendatangkan rupiah.

Dalam satu tahun, rata-rata tabungan sampah Yogi mencapai Rp 2 juta hingga Rp 3 juta. Hal itu sebanding dengan upayanya.

Baca Juga:  Achmad Dani dan Alifia Safitri Rebut Juara Lomba Poster Infografis HUT 79 Kemerdekaan RI RW 05 Perumahan Taman Candiloka, Ngampelsari, Candi, Sidoarjo

“Selain dari rumah sendiri, saya pesan kepada saudara hingga teman-teman kantor untuk mengumpulkan sampah daur ulang,” ucapnya.

Bahkan, saat berkendara motor menuju dan pulang dari kantornya di Surabaya, ia selalu ‘sangu’ tas kresek. Bila menemui sampah daur ulang seperti botol plastik di jalan, Yogi lantas memungutnya. Ia berharap, langkahnya bisa menggugah kesadaran warga agar tidak buang sampah sembarangan. “Kesadaran peduli lingkungan harus terus ditabuh,” imbuh Yogi.

Ketua Bank Sampah Induk Sumringah Desa Ngampelsari, Misri menjelaskan, bank sampah yang dikelola bersama pengurus ini berdiri pada akhir Mei 2014 lalu.

Baca Juga:  Tunjungan Coffee Event 2024, Kenalkan Produk Kopi Unggulan dan Cita Rasa Nusantara

“Awalnya memang masih sedikit, namun kemudian berkembang. Tidak hanya warga Desa Ngampelsari saja, warga luar desa pun juga banyak yang menabung sampah di sini,” ucapnya.

Menurutnya, ada ratusan warga yang aktif menyetorkan sampah daur ulang, namun ada juga yang berkelompok dalam satu RT dan RW.

Ia menjelaskan, setiap menabung, petugas menimbang dan mencatatnya di buku tabungan. “Nah, tabungan ini bisa kok diambil sewaktu-waktu. Bahkan ada warga yang menggunakan tabungan tersebut untuk ngelencer bareng,” imbuhnya.

Dalam satu bulan, omzet Bank Sampah Induk Sumringah mencapai angka Rp 1,2 juta hingga Rp 1,6 juta.

Berkat konsistensinya, Bank Sampah Induk Sumringah diganjar beberapa penghargaan dari Pemkab Sidoarjo. Pada  2014 meraih juara 1 Lomba Daur Ulang Sampah dalam program Sidoarjo Bersih dan Hijau. Di tahun 2015, Bank Sampah Induk Sumringah meraih ‘Champion’ sebagai Bank Sampah Terbaik se Sidoarjo dalam program Green & Clean. (sat)