Pendidikan
393 Siswa SMA Muhammadiyah 2 Surabaya Ikuti Ujian Praktik Manasik Haji
SURABAYA, SURYAKABAR.com – Sebanyak 393 siswa kelas 12 SMA Muhammadiyah 2 (Smamda) Surabaya menjalani ujian praktik manasik haji di sekolah setempat, Senin (9/2/2026).
Salah satu pelajar asing Smamda peserta Inbound Student of Rotary Youth Exchange Program 2025 asal Prancis, Engie En Nana juga turut mengikuti ujian praktik ini.
Kepala SMA Muhammadiyah 2 Surabaya Mukhlasin ST MPd mengatakan, ujian praktik manasik haji ini sebagai rangkaian dari Ujian Satuan Pendidikan (USP) yang menjadi salah satu materi penutup dalam rangkaian ujian praktik di Smamda tahun ini.
Menurutnya, ujian praktik ini digelar untuk memberikan bekal pemahaman yang mendalam kepada para siswa mengenai rukun Islam kelima.
“Tujuan kami melakukan manasik haji ini adalah membekali anak-anak bagaimana rukun Islam yang terakhir itu, harapan kami anak-anak semuanya untuk menyempurnakan, minimal kami sudah membekali beginilah cara haji yang benar,” ujarnya.
Mukhlasin menjelaskan, untuk penilaian ujian praktik ini dibagi menjadi dua, yakni individu dan kelompok yang meliputi aspek kognitif dan psikomotorik siswa.
Untuk penilaian individu, tim penilai memfokuskan pada penguasaan bacaan maupun doa-doa manasik haji. Sedangkan, secara kelompok, penilaian dilakukan melalui tata cara ibadah haji maupun umrah secara fisik, seperti praktik Sa’i dan Tawaf yang dilakukan bersama-sama dalam satu kelompok.
“Penilaiannya ada yang bersifat sendiri, ada yang bersifat kelompok. Misalnya, tentang bacaan atau doa-doa itu secara mandiri. Tetapi, kalau misalnya Sa’i dan Tawaf itu secara berkelompok. Jadi, kami sudah membekali anak jauh hari tentang tahapan apa yang harus dilakukan tentang manasik haji ini, dan tidak cukup hanya sekadar hanya panduan, tetapi juga harus bisa mengaplikasikan panduan itu,” jelasnya.
Mukhlasin menegaskan, panduan dan pembekalan materi manasik haji kepada para siswa ini sudah dilakukan pihak sekolah jauh-jauh hari. Sehingga, para siswa bisa memahami secara langsung di lapangan. Sebab, sering kali situasi riil berbeda dengan teori di dalam buku.
“Kadangkala panduan itu juga ketika terjadi sesuatu di lapangan juga tidak bisa untuk menjabarkan, dan ini yang harus kita antisipasi,” tegasnya.
Meski demikian, pihak sekolah juga memberikan fleksibilitas bagi siswa yang berhalangan hadir karena alasan mendesak seperti sakit, yakni melalui mekanisme ujian susulan atau remidi.
“Kami ingin mereka mampu melakukan ibadah umrah maupun haji secara utuh dan benar. Semoga setelah lulus, mereka memiliki motivasi yang kuat untuk segera menunaikan rukun Islam yang kelima ini,” pungkasnya. (aci)


