Berita Sidoarjo
Ruwatan Desa Sedenganmijen, Kecamatan Krian Sidoarjo, Meriah, Warga Berebut Gunungan Tempe Raksasa dan Hasil Pertanian

SIDOARJO, SURYAKABAR.com – Tradisi ruwat desa di Desa Sedenganmijen, Kecamatan Krian, Sidoarjo, Minggu (1/2/2026) berlangsung meriah.

Sejak pagi, ratusan warga sudah memadati lapangan untuk mengikuti rangkaian ruwat desa dan berebut gunungan tempe dan aneka hasil pertanian. Kegiatan ini sebagai wujud syukur atas rezeki dan keselamatan seluruh warga desa.

Suasana semakin semarak ketika tumpeng aneka hasil pertanian diarak keliling kampung dan masuk di area lapangan yang di tengahnya terdapat tumpeng tempe raksasa setinggi sekitar tujuh meter.

Baca Juga:  Perumda Delta Tirta Sidoarjo Genjot Digitalisasi dan SCADA, Percepat Layanan Air Bersih untuk Warga

“Bagi kami, tumpeng hasil pertanian dan tempe bukan sekadar simbol, tetapi juga berkah yang diyakini membawa keberuntungan, rejeki, keselamatan dan keberkahan,” terang Kepala Desa Sedenganmijen, M. Hassanudin, Minggu (1/2/2026).

Tak heran, begitu doa selesai dipanjatkan, kerumunan warga langsung merangsek maju untuk berebut isi gunungan. Tumpeng tempe raksasa yang dibagikan panitia ke arah kerumunan warga dan hasil pertanian ludes diserbu warga. Tua, muda bahkan anak-anak ikut berebut.

Baca Juga:  Hari Jadi ke-167 Kabupaten Sidoarjo, Bupati Subandi Ajak Warga Wujudkan Sidoarjo Inklusif, Berkelanjutan, dan Tangguh

Hasanuddin mengatakan, tradisi ruwat desa ini merupakan tradisi yang harus terus dijaga karena menjadi sarana mempererat kebersamaan warga.

“Ruwat desa ini bentuk syukur kami kepada Tuhan atas keselamatan dan hasil panen. Selain itu, ini juga jadi ajang silaturahmi agar warga tetap rukun dan kompak,” ujarnya.

Tentang tumpeng tempe raksasa yang menghabiskan 4 kuintal kedelai, Hasanuddin mengatakan, hal itu adalah simbol karena desanya merupakan produsen tempe.

Baca Juga:  LAZISNU –LKNU Sidoarjo Gelar Layanan Kesehatan Gratis kepada 150 Ojol di Momen Satu Abad NU

“Di sini ada puluhan produsen tempe meskipun jumlahnya terus menyusut, tapi tradisi dan rasa syukur ini terus kita adakan,” imbuhnya.

Ia berharap tradisi tersebut tetap lestari dan bisa diwariskan kepada generasi muda.

Di tengah kerumunan, Devi, salah satu warga, tampak tersenyum sambil memegang erat beberapa sayuran. Meski tak berhasil mendapatkan tempe yang paling diburu, ia tetap merasa senang.

“Tadi nggak kebagian tempe, cuma dapat hasil pertanian saja. Tapi tetap senang, yang penting bisa ikut meramaikan dan berebut berkah. Sangat seru,” katanya sambil tertawa. (sat)