Burung Hantu, Burung Buas yang Bisa Dipelihara, Ini Komunitasnya di Sidoarjo

SIDOARJO, SURYAKABAR.com – Burung hantu (owl) termasuk burung yang merupakan anggota ordo stigiformes. Burung ini termasuk burung buas dan merupakan hewan malam. Namun burung yang sering memburu tikus ini bisa menjadi jinak. Bahkan di Sidoarjo banyak komunitas pecinta burung hantu.

Salah satunya adalah Latber (Latihan Bersama) Owl. Tony, sang ketua komunitas ini menceritakan, terbentuknya komunitas tersebut berawal dari terbatasnya aktivitas ketika virus Covid-19 merebak. Awalnya kenal melalui media sosial kemudian bertemu sambil membawa burung hantu kesayangan mereka.

Meskipun baru dibentuk pada 2021, komunitas Latber Owl rutin menggelar pertemuan seminggu sekali di Alun-alun Sidoarjo.

“Saat ini anggota kita 17 orang. Sebelumnya kita latihan bareng secara virtual, ketemu di medsos, karena sehobi. Kemudian lanjut kopi darat karena satu kota,” ucap Tony, Selasa (14/6/2022).

Ia menceritakan, burung hantu miliknya berjenis Bubo Sumatranus, yang dia beli dari temannya. Ia membeli ketika burung tersebut berusia tiga bulan dengan harga Rp 2 juta.

“Kalau kita rawat dari kecil, itu lebih bagus, karena dia sudah terbiasa dengan manusia terutama pemiliknya. Lebih jinak dan penurut,” jelasnya.

BACA JUGA:

Ada banyak jenis burung hantu yang tersebar di Indonesia, antara lain Bubo Sumatranus, Buffy, Obay Oriental, Celepuk, dan Dares. Namun saat ini burung hantu jenis Dares sudah dilindungi pemerintah karena populasinya terancam punah.

“Masing-masing punya keunikan tersendiri, seperti jenis Buffy dia mempunyai karakter diurnal atau bisa aktif di siang hari, tidak seperti burung hantu pada umumnya yang aktif di malam hari,” terang Tony.

Buffy juga suka makan ikan, lanjut Tony. Makanan utama lainnya seperti burung puyuh, tikus, dan daging ayam.

burung

Tony melanjutkan, untuk perawatan burung hantu bisa dibilang cukup mudah. Sekali makan, burung hantu memerlukan budget sekira Rp 5 -10 ribu, tergantung usia dan ukuran tubuhnya. Selain itu ada peralatan yang rutin diganti setiap 3 bulan sekali, yakni anklet (tali) berbahan kulit asli.

“Harus pakai kulit asli angkletnya, agar tidak melukai kaki burung. Jangan pakai tali berbahan lanyard, prusik, atau tali sepatu. Tidak boleh,” saran Tony.

Burung hantu bisa mandi sendiri, tinggal disediakan wadah berisi air, mereka akan mandi dengan cara mengepakan sayap berkali-kali.

Tony berpesan, jika memberi makan burung hantu, biasakan dikasih makanan hewan hidup agar insting berburunya tidak hilang.

Ketika burung hantu sakit, biasanya Tony akan berbagi pengalaman bersama anggota komunitasnya, selagi sakitnya tidak parah. “Namun jika dirasa sakitnya parah ya harus dibawa ke dokter unggas atau dokter hewan exotic,” imbuhnya. (aha)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *