Belangkon Pacul Gowang Khas Sidoarjo Makin Diminati Konsumen

SIDOARJO, SURYAKABAR.com – Menjadi pengusaha tampaknya lebih menjanjikan dibandingkan dengan menjadi karyawan atau pekerja di era milineal seperti saat ini.

Tidak terpaku pada aturan perusahaan dan mempunyai kebebasan dalam berkreasi menjadikan pengusaha lebih bisa mengatur dan menyiasati bisnis sendiri.

Meskipun demikian tak cukup bermodal materi saja, tetapi juga daya kreativitas menjadi dasar agar bisnis apapun mampu bersaing di dunia global. Salah satunya pemilik usaha Blangkon Pacul Gowang asal Kabupaten Sidoarjo ini, yang kini semakin dilirik konsumen dari berbagai daerah.

Kemajuan teknologi dan informasi saat ini, membuat segala hal semakin mudah. Tak terkecuali dalam dunia bisnis dan pemasaran. Kemudahan-kemudahan itulah yang kemudian dimanfaatkan Ririn warga Desa Sawocangkring Kecamatan Wonoayu Sidoarjo dalam memasarkan serta memperkenalkan belangkon khas asal Sidoarjo buatannya.

Berkat pemikiran dan ide-ide kreatif ibu dua anak ini, usahanya kini semakin berkembang pesat bahkan sampai kebanjiran pesanan. Mulai dari pemesan melalui online maupun datang langsung ke tempat produksi, yang berada di sebelah rumahnya.

belangkon2

Setiap pagi di rumah Ririn, aktivitas menjahit jarit atau kain batik panjang sebagai bahan baku pembuatan belangkon sudah mulai dilakukan.

Tak hanya itu, cetakan yang terbuat dari kayu dan dibentuk menyerupai kepala manusia, juga tampak disiapkan. Tangan-tangan terampil para pekerja, kemudian mulai memukulkan palu kecil untuk merajut jarit hingga membentuk sebuah belangkon, yang kemudian ditata rapi untuk dijemur.

Ririn atau yang oleh para tetangga dan para karyawannya akrab disapa Mbak Ririn ini mengaku, menjalankan usaha menjadi pengerajin belangkon sudah hampir 30 tahun lebih bersama sang suami yang sudah meninggal delapan bulan lalu.

Meskipun di daerahnya ada beberapa pengerajin belangkon, namun mereka memiliki model yang berbeda-beda, sehingga semua pengerajin tetap memiliki pelanggan sendiri-sendiri.

“Usaha ini meneruskan jejak suami, sejak 30 tahun yang lalu sejak kita belum menikah suami saya sudah membuat belangkon, namun dulu tidak sebesar ini. Namanya juga masih merintis,” ungkap Mbak Ririn, Minggu (4/11/2018).

Ririn menceritakan, almarhum suaminya, Abdul Rokib wafat di usia 47 tahun. Mereka dikaruniai dua anak. Yang pertama, perempuan saat ini duduk di bangku SMA, sedangkan adiknya, laki-laki masih berusia empat tahun. “Sejak dulu pekerjaan suami saya ya membuat belangkon ini saja,” ungkapnya.

Setelah ditinggal pergi suaminya delapan bulan silam, Ririn kini mengurusi usaha kerajinan belangkon sendiri. Dibantu delapan pekerja Ririn kini bisa menyelesaikan delapan kodi atau 140 biji belangkon perhari.

“Saya mempekerjakan orang-orang di sekitar sini, saya ajari kemudian membantu bekerja di sini. Kalau untuk omzetnya saya tidak bisa menghitung pastinya. Satu bulan ya sekitar Rp 25 juta lebih lah. Itu belum dipotong gaji pekerja,” katanya.

belangkon1

Dari delapan orang pekerja, dua orang memproduksi membuat belangkon di rumah Ririn. Sebagian membentuk belangkon dan dua orang lain bertugas untuk menjahit. Beberapa orang karyawan juga ada yang memilih mengerjakan di rumah masing-masing. “Dua orang bekerja di rumah, dua orang khusus menjahit jarit dan sisanya garap di tempat saya sini,” kata Ririn.

Beberapa jenis model belangkon mampu dibuat Ririn bersama para pekerja kreatifnya. Di antaranya belangkon model pacul gowang, model Cak dan Ning Jawa Timuran, Madura dan model Ponorogoan.

Dikatakan Ririn, dengan banyaknya model yang ia buat, ada satu model belangkon hasil ciptaannya sendiri yang pernah mendapat penghargaan dari Pemerintah Kabupaten Sidoarjo. “Yang model Pacul Gowang ini saya sendiri yang menciptakan. Belangkon ciptaan saya ini pernah mendapat penghargaan dari Pemkab Sidoarjo. Namun waktu itu saat mendapat penghargaan pas waktu suami saya sudah tidak ada,” ungkapnya.

Produksi belangkon Ririn ini, pemasarannya hingga Jakarta, Solo, Jogjakarta dan area Surabaya. Dalam membuat belangkon ini, ada juga kendala yang kerap ia dihadapi. Salah satunya sering telatnya bahan baku jarit.

“Kadang juga ada perias yang membawa jarit sendiri untuk dibuatkan karena ingin dengan bahan yang lebih bagus dan terkesan lebih mewah,” katanya.

Harga belangkon, kata Ririn, ditentutkan tingkat kesulitan dan harga bahan baku jarit. Mulai harga Rp 10 ribu untuk model Madura, model Jawa Timuran Rp 25 ribu, dan yang paling mahal model Pacul Gowang yakni Rp 50 ribu. (wob)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *