Pegadaian Incar Kelompok Millenial dan Mahasiswa Jawa Timur

SURABAYA, SURYAKABAR.com – PT Pegadaian (Persero) Jawa Timur mengincar nasabah millenial untuk menambah jumlah nasabah. Perusahaan BUMN ini menjadikan mahasiswa sebagai pasar potensial untuk pengembangan gadai.

Pendekatan terhadap kelompok millenial dilakukan dengan meluncurkan produk Pegadaian Digital Service (PDS). Produk ini diyakini bisa mendongkrak jumlah nasabah dari kelompok millenial, karena potensi kelompok millenial masih sangat terbuka lebar untuk dikembangkan.

“Selama ini nasabah kita rata-rata umurnya 20 tahun keatas. Ini saatnya kita mau merangkul kelompok millenial, di antaranya mahasiswa,” kata Hermawan Aries Andi, Pemimpin Wilayah Pegadaian Kanwil XII Surabaya dalam acara literation fair di Giant Maspion, Surabaya, Minggu (1/4/2018).

Hermawan mengakui, saat ini proses pendekatan terhadap mahasiswa sudah berjalan. Langkah awal Pegadaian telah masuk ke Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Dalam pertemuan ini, Pegadaian memperkenalkan produk-produk yang selama ini dimiliki, kemudian dilengkapi dengan produk terbaru yang menyasar kaum millenial.

Produk yang sangat bersentuhan dengan mahasiswa sebagai kelompok millenial adalah PDS. Program tersebut berkaitan dengan gadget yang selama ini selalu dipegang kelompok millenial.

Dalam PDS, mahasiswa nantinya tidak perlu melakukan transaksi dengan datang ke kantor Pegadaian. Namun mereka cukup melakukan transaksi melalui gadget dengan cara mudah.

“Mahasiswa kan pegangannya gadget, jadi tidak akan sulit untuk bertransaksi dengan menggunakan Pegadaian Digital Service,” ujarnya.

Salah satu produk yang bisa dilakukan transaksi melalui PDS adalah tabungan emas. Tabungan ini menjadi sangat realistis dengan melihat kantong mahasiswa. Pegadaian lebih fleksibel dalam menerapkan program ini. Mahasiswa bisa menabung dengan jumlah Rp 5.000 atau Rp 10.000.

Dengan jumlah itu, Hermawan menilai, mahasiswa di Jawa Timur mampu menerapkannya. Untuk itu, ia mengaku akan terus mendatangi kampus guna memberikan pendidikan khusus terkait produk-produk Pegadaian yang bisa dimanfaatkan.

“Ada tujuh kantor Deputy Pegadaian di Jawa Timur. Saya ingin ada pertemuan di tujuh kota tersebut dengan mahasiswa minimal dua bulan sekali,” ungkapnya.

Cara seperti ini, lanjut dia, mampu memberikan pendidikan tentang pembiayaan dari kalangan millenial. Sesuai dengan penelitian OJK (Otortas Jasa Keuangan), orang Indonesia masih kurang memahami sistem pembiayaan. Untuk itu, Pegadaian sebagai perusahaan negara ikut turun dan memberikan pengertian menggenai jenis pembiayaan alternatif yang dimiliki.

“Kami juga harus masuk ke kelompok millenial, mereka merupakan kelompok potensial kedepan. Tetapi memang semua harus pelan-pelan,” aku Hermawan. (arf)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *