Cabai Kering Impor dari India Lebih Murah Beredar di Sidoarjo, Ini Konsumennya

SIDOARJO, SURYAKABAR.com – Harga cabai di pasar tradisionil di wilayah Sidoarjo masih tinggi. Cabai kecil lokal super per kilogram harganya di kisaran Rp 150 ribu, cabai kecil campur Rp 120 ribu per kilogram dan cabai kecil yang kualitasnya rendah Rp 70 ribu per kilogram.

Guna menyiasati harga cabai mahal, pedagang makanan menggunakan cabai dari India. Cabai asal India di pasaran dipatok dengan harga Rp 70 ribu per kilogram. Cabai asal India kondisinya kering dan lebih panjang dua kali dari cabai lokal.

“Cabai dari India lebih murah, dan panjangnya dua kali dari cabai lokal tapi kering,” kata Tutik (63) pedagang prancangan di pasar Porong, Rabu (22/2/2017).

Menurut Tutik, setiap hari dia menjual cabai asal India ini sekitar lima hingga enam kilogram. Mayoritas yang membeli pedagang makanan dan penjual bakso yang sambalnya sudah jadi.

“Kami membeli cabai asal India ini dari pasar Pabean Surabaya, setiap minggunya sekitar 40 hingga 50 kilogram dengan harga Rp 55 ribu per kilogram,” terang Tutik.

Tutik menambahkan, cabai asal India ini murah dibanding cabai lokal, nanum pembelinya hanya orang-orang penjual makanan seperti bakso, warung nasi yang sambalnya sudah jadi.

“Penjual makanan yang sambalnya baru membuat saat ada pembeli, tidak menggunakan cabai asal India, dia pakai cabai lokal meskipun harganya mahal,” terangnya.

Penjual bakso keliling M Muslimin (31) mengatakan, untuk menyiasati harga cabai mahal dia membeli cabai asal India, karena harganya lebih murah dibanding cabai lokal.

Di tempat terpisah, Kepala Dinas Pertanian Sidoarjo, Handadjani, mengatakan pihaknya belum mengetahui masuknya cabai impor asal India di Sidoarjo.

Handadjani mengaku Kamis (23/2/2017) akan bertemu Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman. Pada pertemuan tersebut, pihaknya akan bertanya mengenai peredaran cabai India tersebut.

“Semua bahan pangan impor yang masuk, itu artinya dari pusat memang membuka keran tersebut karena berbagai alasan. Cabai India di Sidoarjo ini saya baru dengar dan akan saya tanyakan sendiri nanti saat bertemu Mentan,” imbuh Handadjani seperti dikutip surabaya.tribunnews.com.

Handadjani menuturkan akan melakukan pantauan pasar terkait peredaran cabai India ini. Sidoarjo memiliki lahan perkebunan cabai. Letaknya di Tulangan dan sepanjang aliran Kali Porong.

Kendati demikian, lanjut Handadjani, kondisinya rusak karena iklim cuaca yang sering hujan. “Namun lahannya tak terlalu luas. Jadi tak mencukupi kalau untuk kebutuhan se-kabupaten,” paparnya.

Dinas Pertanian memiliki program Kelompok Rumah Pangan Lestari (KRPL). Pada program ini warga diberikan beberapa bibit holtikultura untuk ditanam di pekarangan rumah. Satu di antara bibit yang diberikan adalah cabai.
“Ada lima desa dengan kurang-lebih 1.000 rumah yang kami masukan program KRPL,” ujarnya.

Handadjani mengklaim warga yang memiliki kebun holtikultura ini tak risau dengan mahalnya harga cabai saat ini. “Namun memang hanya bisa dinikmati di sekitar desa itu saja. Warga biasanya memakai sendiri dan tak dijual lagi,” ucapnya. (pn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *